{"id":14,"date":"2019-06-16T14:12:45","date_gmt":"2019-06-16T13:12:45","guid":{"rendered":"http:\/\/ikal49.org\/?p=14"},"modified":"2019-06-16T18:26:37","modified_gmt":"2019-06-16T17:26:37","slug":"jelang-mea-listrik-di-daerah-masih-tertinggal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ikal49.org\/index.php\/2019\/06\/16\/jelang-mea-listrik-di-daerah-masih-tertinggal\/","title":{"rendered":"Jelang MEA, listrik di daerah masih tertinggal"},"content":{"rendered":"\n<p>JAKARTA. Jelang pasar bebas ASEAN (MEA), pasokan listrik masih menjadi persoalan di Indonesia. Apalagi pasokan listrik di desa, yang tertinggal jauh ketimbang desa di negara-negara ASEAN lainnya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Ketua IKAL 49, Boedhi Setiadjid, mengatakan, masyarakat yang belum teraliri listrik kesulitan mendapat akses informasi, tak akan bisa belajar dengan maksimal dan tak dapat menikmati perkembangan teknologi.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cUpaya pengadaan listrik desa harus diupayakan secara sungguh-sungguh,\u201d tegas Boedhi di sela-sela Focus Group Discussion (FGD) yang bertajuk&nbsp;<em>Energi untuk Rakyat, Pembangunan Elektrifikasi di Daerah Tertinggal<\/em>&nbsp;yang digelar Senin, (2\/11).<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut Boedhi, kesenjangan rasio elektrifikasi dan pengaliran listrik di Indonesia, antara daerah kota dan desa harus mulai diperkecil, apalagi di daerah-daerah terpecil yang sebagian besar berada di luar Pulau Jawa.<\/p>\n\n\n\n<p>Berdasarkan data Bappenas pada 2013, rasio elektrifikasi daerah kota mencapai 94%, sedangkan rasio di&nbsp;pedesaan hanya 32%.<\/p>\n\n\n\n<p>Bandingkan dengan Thailand yang sudah seimbang antara kota dan desa yakni 99%.&nbsp;Sedangkan rasio ketimpangan elektrifikasi daerah dengan kota di Malaysia hanya berbeda 1,4% poin, yakni 99,4% dengan 98%.<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara itu, berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Manusia (ESDM) pada Agustus 2014, realisasi elektrifikasi di seluruh Indonesia sudah mencapai 82,37%. Rata-rata setiap provinsi sudah mencapai di atas 50%. Hanya provinsi di Papua yang sistem elektrifikasinya masih 37,48%.<\/p>\n\n\n\n<p>Mei lalu, rasio elektrifikasi tertinggi masih dipegang oleh Jakarta. Sedangkan rasio elektrifikasi yang terendah adalah wilayah-wilayah perbatasan dan pulau-pulau terpencil.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cProblem pemenuhan elektrifikasi nasional pada dasarnya adalah elektrifikasi di daerah tertinggal,\u201d ungkap Jarman.<\/p>\n\n\n\n<p>Senada dengan Jarman, Direktur Pengembangan Sumber Daya dan Lingkungan Hidup Direktorat Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT), Faizul Ishom menyebutkan, saat ini rata-rata rasio elektrifikasi di 122 kabupaten daerah tertinggal di Indonesia adalah berkisar di angka 70%, jauh tertinggal di bawah rata-rata rasio elektrifikasi nasional.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKita harapkan proses perluasan akses listrik di desa ini bisa cepat dengan pembangunan jaringan tegangan menengah, tegangan rendah dan gardu-gardu distribusi,\u201d tutur Faizul yang juga merupakan anggota IKAL 49.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurutnya, saat ini yang diperlukan adalah kebijakan desentralisasi energi, dimana setiap daerah dapat memiliki sumber daya listriknya masing-masing dan mampu mengaliri setiap warganya disana.<\/p>\n\n\n\n<p>Faizul menilai, kebijakan ini sangat tepat dijalankan di daerah-daerah pelosok karena setiap daerah dapat mengeksplorasi sumber daya energinya masing-masing tanpa harus terhubung secara langsung dengan jaringan listrik pusat yang justru akan menyebabkan pemborosan energi listrik.<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas RI 49 (IKAL 49) mencatat, dari 74.094 desa di Indonesia,&nbsp;ada 39.086 atau 53% termasuk desa yang tertinggal.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA. Jelang pasar bebas ASEAN (MEA), pasokan listrik masih menjadi persoalan di Indonesia. Apalagi pasokan listrik di desa, yang tertinggal jauh ketimbang desa di negara-negara ASEAN lainnya.&nbsp; Ketua IKAL 49, Boedhi Setiadjid, mengatakan, masyarakat yang belum teraliri listrik kesulitan mendapat akses informasi, tak akan bisa belajar dengan maksimal dan tak dapat menikmati perkembangan teknologi. \u201cUpaya &hellip; <\/p>\n<p class=\"link-more\"><a href=\"https:\/\/ikal49.org\/index.php\/2019\/06\/16\/jelang-mea-listrik-di-daerah-masih-tertinggal\/\" class=\"more-link\">Continue reading<span class=\"screen-reader-text\"> &#8220;Jelang MEA, listrik di daerah masih tertinggal&#8221;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":76,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-14","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","entry"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ikal49.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ikal49.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ikal49.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ikal49.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ikal49.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=14"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/ikal49.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":74,"href":"https:\/\/ikal49.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14\/revisions\/74"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ikal49.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/76"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ikal49.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=14"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ikal49.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=14"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ikal49.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=14"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}